Melalui unggahan di Truth Social, Donald Trump menyatakan bahwa Israel dan Lebanon telah menyetujui gencatan senjata formal selama 10 hari demi mengupayakan perdamaian. Kesepakatan ini menghentikan sementara konflik yang melibatkan Israel dan Hizbullah selama 1,5 bulan terakhir di wilayah selatan Lebanon. Instruksi gencatan senjata ini efektif berlaku sejak Jumat, 17 April 2026 pukul 05.00 WIB, menyusul pembicaraan telepon antara Trump dengan Presiden Joseph Aoun dan PM Benjamin Netanyahu.
Di luar Gedung Putih, Donald Trump memberikan pernyataan bahwa Lebanon akan bertanggung jawab menangani Hizbullah sebagai bagian dari kesepakatan yang baru dicapai. Trump menegaskan pentingnya perjanjian antara Israel dan Lebanon ini bagi stabilitas kawasan. “Saya pikir Lebanon akan mengurus Hizbullah,” ujarnya kepada wartawan, sembari menambahkan bahwa saat ini fokus utama adalah mewujudkan kesepakatan strategis yang melibatkan kedua negara tersebut.
Melalui platform Truth Social, Donald Trump berencana mengundang PM Benjamin Netanyahu dan Presiden Joseph Aoun ke Amerika Serikat dalam satu atau dua minggu ke depan. Pertemuan ini digadang-gadang sebagai dialog paling signifikan antara kedua negara sejak tahun 1983. Meski PM Netanyahu telah mengonfirmasi keikutsertaan Israel dalam gencatan senjata, ia menegaskan bahwa pasukan militer akan tetap berada di “zona keamanan” sejauh 10 km di Lebanon selatan. Di sisi lain, Hizbullah menyatakan kesediaannya untuk terlibat, dengan syarat Israel menghentikan seluruh serangan secara total dan tidak ada pergerakan bebas bagi pasukan Zionis di wilayah Lebanon.
Trump: Teheran Setuju Tanpa Senjata Nuklir Selama 20 Tahun
Di balik gencatan senjata Israel-Lebanon, Donald Trump membeberkan detail negosiasi dengan Iran yang berlangsung di Pakistan. Trump mengeklaim kedua negara telah menyepakati banyak hal, salah satunya pembatasan senjata nuklir Iran untuk dua dekade mendatang. Di sisi lain, Iran mencoba menyatukan kesepakatan damainya dengan isu Lebanon, meskipun ditentang oleh AS dan Israel. Konflik regional ini sendiri bermula pada awal Maret 2026, menyusul serangan udara gabungan terhadap wilayah Iran yang memicu eskalasi militer dari kelompok Hizbullah di perbatasan utara Israel.
Perang antara Israel dan Hizbullah telah menghancurkan sedikitnya 37.000 bangunan dan memaksa satu juta warga Lebanon meninggalkan tempat tinggal mereka. Eskalasi ini bermula dari serangan roket Hizbullah sebagai respons atas pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah upaya diplomasi di Washington, serangan udara mematikan di Beirut terus menjadi sorotan. Dalam konflik ini, militer Israel menyatakan tidak memiliki sengketa dengan Angkatan Bersenjata Lebanon, namun fokus pada pertempuran dengan Hizbullah yang telah menewaskan 13 tentara dan dua warga sipil Israel.
Tiga Poin Utama Kesepakatan Gencatan Senjata Israel-Lebanon
Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS mencakup tiga ketentuan penting. Selain fleksibilitas perpanjangan waktu bagi negosiasi yang lancar, perjanjian ini memberikan ruang bagi Israel untuk merespons ancaman keamanan secara mandiri. Di sisi lain, peran pasukan keamanan Lebanon diakui sebagai satu-satunya pemegang otoritas di dalam negeri. Kendati pertempuran sempat memanas sesaat sebelum jadwal dimulai, tantangan besar masih membayangi terkait pelucutan senjata Hizbullah, yang menurut pemerintah Lebanon harus ditempuh melalui jalur perundingan, bukan kekuatan fisik.
