Penggunaan perangkat wearable seperti smartwatch kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern. Namun, banyak pengguna tidak menyadari bahwa gawai ini memiliki pengaruh signifikan terhadap keseharian mereka.
Di Indonesia, tren perangkat wearable terus menunjukkan grafik pertumbuhan yang positif. Seiring dengan peningkatan kesadaran akan pola hidup sehat, berbagai produk smartwatch terbaru pun terus membanjiri pasar.
Akan tetapi, perlu dipahami bahwa jam tangan pintar berbasis kecerdasan buatan (AI smartwatch) yang kini digunakan oleh jutaan masyarakat Indonesia fungsinya telah melampaui sekadar alat pemantau kebugaran.
“Perangkat ini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi penggunanya,” ungkap Dr. Ressa Uli Patrissia, dalam keterangan yang diterima detikINET, Rabu (27/5/2026).
Menurut dosen sekaligus peneliti yang baru saja meraih gelar Doktor Komunikasi dari Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid pada Senin (25/5) lalu, smartwatch kini berperan layaknya teman pendamping pribadi atau ‘rekan penulis’ (co-author) yang secara aktif turut membentuk identitas penggunanya.

Dalam disertasinya yang berjudul ‘AI-Powered Smartwatches as a Driving Force of Individuation Communication Transformation Across Indonesian Generations’, Ressa menyimpulkan bahwa para pengguna AI smartwatch lintas generasi di Indonesia kini cenderung mengalami pergeseran menjadi pribadi yang sangat bergantung pada kendali algoritma.
Kesimpulan tersebut didapatkan melalui metode wawancara mendalam terhadap 30 partisipan yang mewakili tiga kelompok usia: Gen X, Milenial, dan Gen Z. Pemilihan ketiga generasi ini memiliki landasan kuat; merujuk pada data tahun 2024, pengguna smartwatch di Indonesia didominasi oleh Gen Z (51%) dan Milenial (49%), dengan tren peminat yang terus menanjak. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, jam tangan pintar berbasis AI telah menjadi elemen tak terpisahkan dalam gaya hidup digital masyarakat.
Ressa mengakui bahwa integrasi teknologi kecerdasan buatan memang menawarkan berbagai keuntungan, terutama dengan terciptanya komunikasi interaktif antara teknologi dan manusia sebagai penggunanya. Namun, di tengah kemudahan teknologi dalam mengakses data pribadi—mulai dari detak jantung, pola tidur, hingga kondisi emosional—Ressa menekankan pentingnya bagi manusia untuk tetap memegang kendali atas dirinya sendiri.
“Hindari ketergantungan penuh pada teknologi, apalagi sampai membiarkan diri diarahkan sepenuhnya oleh teknologi tersebut,” tegas Ressa.
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Dr. Prasetya Yoga Santosa, menyambut positif riset ini. Menurutnya, hasil disertasi tersebut membuka cakrawala baru dalam pengembangan ilmu komunikasi.
“Temuan dari riset Ressa Uli Patrissia menunjukkan bahwa ruang lingkup ilmu komunikasi saat ini sudah tidak lagi terbatas pada interaksi antarmanusia atau sekadar hubungan manusia dengan media tradisional,” ujar Yoga.
Ia menambahkan, saat ini kita sedang menapaki era baru di mana komunikasi terjadi dalam jalinan hubungan yang semakin rumit, melibatkan interaksi antara manusia, data, algoritma, kecerdasan buatan, gawai digital, serta struktur sosial masyarakat. Hal ini menjadi tantangan sekaligus ranah krusial yang perlu dipelajari oleh ilmu komunikasi di masa depan.



