Kabar kurang menyenangkan bagi para pelancong, tarif penerbangan di beberapa maskapai kini mulai merangkak naik. Fenomena ini merupakan dampak langsung dari harga avtur yang melonjak drastis akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Konflik tersebut mengganggu distribusi bahan bakar pesawat secara global.
Tak hanya soal harga tiket, para penumpang juga harus bersiap dengan perubahan jadwal karena banyak rute yang mulai dikurangi atau bahkan dibatalkan. Langkah ini dilakukan maskapai sebagai bentuk penghematan operasional agar tetap bisa bertahan di tengah biaya bahan bakar yang kian mencekik. Pastikan Anda memeriksa kembali jadwal penerbangan secara berkala sebelum bepergian.
1.Scandinavian Airlines

Maskapai Scandinavian Airlines terpaksa mengambil langkah drastis dengan membatalkan sekitar 1.000 jadwal penerbangan sebagai dampak dari gejolak pasar energi global. Melansir data dari Business Insider pada Senin (6/4/2026), kebijakan ini difokuskan pada rute-rute jarak pendek di kawasan Nordik guna meminimalisir kerugian operasional.
Keputusan ini merupakan imbas langsung dari melonjaknya harga bahan bakar pesawat (avtur) yang tengah menghantam industri penerbangan di seluruh Eropa. Selain pemangkasan jadwal, pihak maskapai juga mulai memberlakukan penyesuaian tarif tiket. Langkah tersebut diambil sebagai strategi bertahan agar operasional perusahaan tetap berkelanjutan di tengah tingginya beban biaya bahan bakar.
2. United Airlines

United Airlines mulai mengambil langkah tegas guna memitigasi dampak lonjakan harga avtur yang diprediksi akan menambah beban operasional hingga 11 miliar dolar AS atau setara Rp187,2 triliun per tahun. Strategi utama yang diambil adalah membatalkan sejumlah jadwal penerbangan, terutama pada jam-jam sepi serta penerbangan malam hari yang dinilai kurang produktif secara finansial.
Manajemen maskapai menyatakan bahwa pengurangan rute yang tidak menguntungkan dalam jangka pendek ini merupakan langkah efisiensi yang tidak terelakkan. Hal ini dilakukan demi menjaga stabilitas ekonomi perusahaan di tengah tekanan biaya energi global yang meningkat tajam.
3. Vietnam Airlines

Mulai Rabu (1/4/2026), Vietnam Airlines mengambil langkah berani dengan menonaktifkan tujuh rute penerbangan domestiknya. Keputusan strategis ini merupakan respons langsung terhadap lonjakan harga avtur global yang kian menekan margin keuntungan perusahaan. Penyesuaian jaringan ini dilakukan demi menjaga stabilitas finansial maskapai di tengah ketidakpastian pasar energi.
Pihak manajemen mengisyaratkan bahwa pemangkasan jadwal terbang kemungkinan akan diperluas jika tren kenaikan harga bahan bakar tidak kunjung mereda. Rute-rute dalam negeri menjadi fokus utama penyesuaian karena memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi terhadap pembengkakan biaya operasional.
4. Air New Zealand

Air New Zealand resmi mengumumkan pengurangan kapasitas operasional sebesar lima persen melalui pembatalan sekitar 1.100 jadwal penerbangan. Mengutip laporan dari Travel Radar, kebijakan strategis ini difokuskan pada rute domestik dan jalur jarak pendek, khususnya di wilayah regional yang memiliki tingkat keterisian penumpang lebih rendah.
Langkah ini diambil sebagai bentuk adaptasi terhadap tingginya biaya operasional saat ini. Selain melakukan pembatalan pada rute dengan permintaan rendah, maskapai juga menerapkan strategi penggabungan jadwal terbang di luar jam sibuk (off-peak). Hal ini dilakukan untuk memastikan efisiensi maksimal tanpa mengorbankan stabilitas layanan pada rute-rute utama mereka.
5. Airasia X

Maskapai low-cost carrier (LCC) jarak jauh, AirAsia X, resmi mengumumkan rencana penyesuaian tarif tiket serta pemangkasan kapasitas penerbangan. Pendiri AirAsia X, Tony Fernandes, menegaskan bahwa kebijakan menaikkan harga tiket merupakan langkah yang harus diambil di tengah situasi ekonomi saat ini. Menurutnya, kondisi tersebut sudah mencapai titik di mana penyesuaian harga menjadi sesuatu yang mutlak.
Melansir dari Sinar Daily, Fernandes menjelaskan bahwa efisiensi dilakukan dengan menutup rute-rute yang dianggap tidak mampu menutupi beban biaya bahan bakar yang meroket. Meski tengah melakukan penghematan besar-besaran, AirAsia X memastikan rute baru menuju Bahrain tetap akan diluncurkan pada Juni 2026 mendatang. Keputusan mempertahankan rute Bahrain diambil lantaran tingginya antusiasme dan permintaan dari pasar.
6. JAL dan ANA

Dua maskapai raksasa asal Negeri Sakura, Japan Airlines (JAL) dan All Nippon Airways (ANA), mengumumkan rencana kenaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) yang cukup signifikan. Mulai Juni 2026, tarif tambahan ini diprediksi akan melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan tarif yang berlaku saat ini.
Guna menjaga transparansi dan mengikuti fluktuasi harga energi global, kedua maskapai tersebut akan menerapkan sistem evaluasi berkala. Besaran biaya tambahan bahan bakar akan ditentukan ulang setiap dua bulan. Pengumuman tarif terbaru akan dilakukan dua bulan lebih awal, sehingga calon penumpang dapat mengetahui estimasi biaya sebelum melakukan pemesanan tiket.
7. Batik Air Malaysia

Batik Air Malaysia mengambil langkah drastis untuk mengamankan operasional perusahaan di tengah rekor kenaikan harga bahan bakar pesawat. Mengutip laporan dari The Edge, maskapai ini resmi mengurangi jadwal penerbangannya hingga 35 persen pada pertengahan awal April 2026. CEO Batik Air Malaysia, Datuk Chandran Rama Muthy, menegaskan bahwa langkah ini merupakan strategi penghematan sumber daya yang mendesak.
Selain memangkas frekuensi terbang, maskapai juga menawarkan program cuti tanpa gaji sukarela bagi para karyawannya. Pendaftaran program ini dibuka hingga Jumat (3/4/2026), dengan jadwal mulai cuti yang telah ditetapkan sejak Senin (6/3/2026). Kebijakan ini diambil sebagai bentuk adaptasi terhadap beban biaya operasional yang meningkat tajam akibat harga avtur yang menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah.



